<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-20428653</id><updated>2011-04-21T14:49:17.249-07:00</updated><title type='text'>R/EJECT</title><subtitle type='html'>perfecting, preasurring, controlling, build instict, the will to power.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://salampramuka.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salampramuka.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>corporate art whore</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00322878491840745540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20428653.post-113656477210150749</id><published>2006-01-06T08:25:00.000-08:00</published><updated>2006-01-06T08:26:12.656-08:00</updated><title type='text'>ANNOUNCEMENT</title><content type='html'>Dear All,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;weblog ini saya pindahkan ke;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sumpahpramuka.wordpress.com"&gt;http://sumpahpramuka.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mulai saat ini saya tidak akan mengaktifkan weblog ini. terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;//d&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20428653-113656477210150749?l=salampramuka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salampramuka.blogspot.com/feeds/113656477210150749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20428653&amp;postID=113656477210150749' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113656477210150749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113656477210150749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salampramuka.blogspot.com/2006/01/announcement.html' title='ANNOUNCEMENT'/><author><name>corporate art whore</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00322878491840745540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20428653.post-113635611001210204</id><published>2006-01-03T22:26:00.000-08:00</published><updated>2006-01-03T22:28:30.066-08:00</updated><title type='text'>Memandang Perkembangan Film (pendek) Indonesia*)</title><content type='html'>Suatu ketika seorang kawan (saya lebih cenderung menyebutnya fans) dari Jogja meng-sms saya. Namanya Darwin (tidak disamarkan-RED), dia bilang saya harus mau jadi pembicara ngobrol santai mengenai masalah distribusi film secara internasional. Kemudian saya tanya, kenapa saya? Dan dia jawab, karena saya baru saja balik dari Jerman. walau saya tidak melihat hubungannya sama sekali, saya meng-iya-kan saja paksaannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kepala saya mulai bekerja untuk mencari ide mengenai tema yang akan dibicarakan tersebut. Ah, rasanya saya memang belum mampu untuk berbicara mengenai hal-hal seperti itu. Saya hanya bisa memberi rekomendasi untuk seorang Lulu Ratna yang secera subyektif saya nilai dia jauh lebih paham mengenai permasalahan itu, karena memang itulah kerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian HP saya berdering. Dari ujung sana, seorang kawan (lagi-lagi saya pikir dia lebih tepat disebut fans) dari Jepara menelepon. Dia ujug-ujug tanya bagaimana caranya mendistribusikan film ke luar negri. Namun kali ini memang ada hubungannya dengan seorang Lulu Ratna. Tapi, ah apa pula ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat percakapan saya dengan beberapa kawan, termasuk seorang Lulu disana. Kebetulan dialah yang memulai pembicaraan mengenai salur-menyalurkan film (pendek) ke luar negri. Intinya, dia menegaskan bahwa dirinya berkomitmen untuk membentuk wadah, lembaga atau apapun yang akan membantu para filmmaker Indonesia untuk menyalurkan filmnya ke pentas internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya tanya sama dia, kemudian siapa yang mengurus untuk tingkat lokal? Sebelum kita jauh-jauh berbicara mengenai ke-internasional-an, masih ada setumpuk pekerjaan untuk masalah distribusi ditingkat lokal (baca:nasional). Akhirnya perdebatan berakhir pada “kesepakatan” bahwa kedua-duanya harus berjalan. Artinya, internasional ya, nasional/lokal juga iya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya saling berhubungan, terkait satu sama lain. Dan untuk situasi kekinian, akan lebih baik kalau kita mencoba menjalani apa yang bisa lebih dulu dijalani sambil menata yang lain atawa faktor yang terkait didalamnya. Bicara distribusi internasional, agak muskil kalau kita tidak juga berbicara tentang penataan distribusi ditingkat lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba membuat asumsi sederhana mengenai hal ini (distribusi nasional/lokal). Katakanlah jumlah peserta FFII dari yang pertama sampai yang kedua benar adanya. Artinya, dalam dua kali penyelenggaraan festival tersebut telah terkumpul kurang lebih 1600 karya. Bayangkanlah jumlah tersebut. Artinya, rata-rata tiap tahunnya ada sekitar 800 produksi tiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika saya sedang membayangkan hal tersebut saya dikejutkan oleh pernyataan kawan saya yang mengatakan sulit sekali mencari film (pendek) karya para filmmaker muda Indonesia. Kalau memang begitu, kemana 800 karya yang telah dihasilkan tiap tahunnya (yang kemungkinan terus bertambah)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencatat di pulau Jawa ini ada beberapa kota yang bisa dikatakan paling produktif dalam menghasilkan karya. Malang, Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Ambillah satu kota saja, katakan Yogyakarta. Dari sekian banyak komunitas atau personal yang produksi, berapa persennya yang benar-benar muncul ke “permukaan”? Artinya memang karya tersebut bisa disaksikan oleh kawan-kawan dari kota lain. Saya bisa bilang, sedikit sekali. Juga jangan sepelekan kota-kota kecil seperti Jepara, Purwokerto, Cilacap, dan kota lainnya. Belum lagi yang diluar pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau kita mencoba untuk NUTIRAH (meruNUT kembalI sejarAH) dari awal pekembangan wacana film (pendek) di Indonesia semenjak boomingnya di tahun 1999. Coba tanyakan seorang Katinka Van Heeren yang sudah susah payah penelitian mengenai gerakan film di Indonesia. Maafkan dan koreksi saya kalau memang salah, tetapi sepertinya tidak ada perkembangan digerakan perfilman Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya mencoba mengeluarkan pisau analisis saya (yang tentunya tidak tajam akibat saya putus sekolah). Secara emosional saya mengatakan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pemunculan gerakan film (pendek) di Indonesia cenderung dimotivasi oleh trend. Artinya, pemunculan ini akibat adanya badai trend yang ditiupkan oleh sekelompok pihak yang saat ini saya anggap amat diuntungkan. Media film (pendek) bukan dipandang sebagai sebuah media alternatif untuk berkarya, berekspresi atau apalah. Nah, coba anda perhatikan jargon “film independen” yang saat ini masih saja menjadi senjata utama sekaligus polemik yang (tidak mau di) terselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, masih lanjutan dari yang pertama. Kebanyakan dari film maker masih mengacu pada aras industri (baca; sinetron atau film panjang untuk konsumsi bioskop). Hal ini menyulitkan pengembangan dari keliaran ide-ide atau konsep, dimana karya yang lahir kebanyakan mengacu pada konsep baku industri; menyenangkan penonton. Dan….sepertinya selebritas masih jadi motivasi kuat disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dan saya anggap paling krusial adalah permasalahan ruang. Ruang dalam artian konseptual, dimana bisa menjadi tempat dialog antara film maker itu sendiri maupun dengan khalayak. Ruang itu bisa saja diartikan sebagai ruang fisik, seperti ruang eksebisi (tidak harus dimaknai dengan kata; bioskop). Dan ruang eksebisi ini rupa-rupa warnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival (dalam tingkat nasional maupun lokal) selama ini masih jadi tumpuan bagi para film maker untuk menunjukkan karyanya. Dan tidak banyak ruang seperti itu (gossip! Konon Konfiden menunda FFVII-nya sampai tahun depan). Dan menunggu sepertinya menjadi pekerjaan mutlak bagi si film maker agar dapat menampilkan karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus pun biasanya yang menjadi tulang punggung kedua untuk menjadi ruang berikutnya. Namun, seberapa banyak ruang yang tercipta dari lokus ini? Dan bisa dikatakan sifatnya masih accidental. Tidak bisa disalahkan, karena situasi yang membuatnya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala keterbatasan ruang yang ada, apa yang bisa kita lakukan? Jawaban saya, membuka ruang. Sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya, seheboh-hebohnya tanpa harus menunggu dan menunggu. Kalau bicara mengenai ini, seorang kawan saya berkata; “sulit mengharapkan terjadinya pembukaan ruang yang luas karena kebanyakan cenderung menjadi si peng-karya, bukan si peng-organizer”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah betul atau tidak, saya mencoba mengeyampingkan hal tersebut. Walau saya akui, bila memang kita ingin melakukan ini, dibutuhkan sebuah komitmen yang kuat. Artinya, fokus terhadap pembukaan ruang ini amat diperlukan. Dan tampaknya belum banyak yang bersedia berada dijalur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah menawarkan satu ide mengenai pembukaan ruang tersebut. Namanya “Bioskop Alternatif” (maaf bagi yang sudah terlalu sering mendengar ide ini). Bioskop alternatif adalah sebuah ruang sederhana, tempat dimana karya dari film maker muda bisa ditampilkan secara rutin. Ruang ini bisa saja berbentuk sebuah ruangan 5x5 meter, dengan atau tanpa bangku, video proyektor pinjaman, namun dengan jadual pemutaran atau program acara yang jelas (dan sekali lagi rutin). Dari situ, arah pengembangannya adalah kearah distribusi bagi karya-karya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide yang pernah saya lontarkan secara masif sekitar 1 tahun yang lalu masih menjadi ide diawang-awang karena menghadapi kesulitan-kesulitan, seperti; darimana video proyektornya, atau siapa yang mau merelakan ruangan 5x5 meter untuk dijadikan bioskop alternatif. Dan kalaupun sewa, uangnya darimana? Tapi saya masih menyimpan harapan tersebut, karena saya yakin suatu saat, disuatu tempat akan ada yang sanggup merealisasikan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya mencoba untuk membuat sebuah program yang saya sebut On Screen. Program ini saya buat per 3 bulan, dimana selama satu bulan, tiap minggunya saya memutar film memakai televisi. Konsepnya, mengumpulkan karya-karya yang ada di kota saya (Purwokerto) kemudian diputarkan dalam program tersebut. Setelahnya saya buat pendataan dari karya-karya yang pernah ditampilkan dalam program tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya, saya akan mencari stok film dari kota-kota lain yang mau diputar dalam program On Screen untuk 3 bulan kedepan. Setelah selesai kembali saya data, dan data tersebut saya akan sebar luaskan dengan maksud siapaun dapat mengakses informasi tersebut dan lama-lama secara otomatis akan menjadi database bersama. Dari kumpulan data film yang ada di Purwokerto, berlanjut ke Yogyakarta, kemudian ke kota-kota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan saya, tiap kota ada mau juga melakukan hal yang sama, sehingga akan terjadi pertukaran data secara intens dan berkelanjutan. Darisana, mulai memabngun jaringan informasi/database yang dapat digunakan bersama. Ini loh film-film yang ada di Yogyakarta, ini loh film yang ada di Pekanbaru, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman saya pertama kali melakukan program tersebut di Purwokerto, saya tidak menemukan kesulitan yang berarti (kecuali cari pinjeman televisi dan VCD player). Mungkin yang menjadi problem utama, permasalah komitmen dalam melakukan hal tersebut. Hal yang abstrak memang, tapi ternyata cukup berpengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya yakin masih banyak cara atau strategi lain dalam hal pengembangan distribusi ini. Namun yang hendak saya katakan, bahwasannya akan menjadi lebih mudah kalau masing-masing pihak berusaha untuk menjemput bola, dan tidak saling tunggu. Akses terhadap ruang inilah yang menjadi penghambat yang cukup berarti bagi pengembangan perfilman (pendek) di Indonesia. Efek dominonya akan menyentuh bagian-bagian yang lain, seperti pengembangan wacana dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pengalaman berharga yang saya dapatkan selama di Jerman untuk 2 minggu lamanya adalah, saya menyaksikan dengan amata kepala saya sendiri apa yang selama ini saya sebut sebagai ruang alternatif. Di kota Hamburg (tempat selama saya tinggal untuk 2 minggu) ada 2 buah tempat yang saya biasa saya sebut bioskop alternatif. Namanya B-Movie (www,B-Movie.de) dan Lichmess.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tempat sederhana ini mempunyai kapasistas tempat duduk 50 kursi dalam ruangan yang tidak begitu luas (bahkan lichmess adalah bar yang merangkap “bioskop”) yang dikelola secara mandiri oleh sekelompok anak muda sebagai tempat eksebisi, khususnya bagi film maker underground. Keberadaan mereka jelas diluar sistem, dimana mereka membangun lingkaran mereka sendiri diluar sistem yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu hal ini tidak mereka bangun dengan bgitu saja. Butuh waktu bertahun-tahun bagi mereka untuk menjadikan ini bagian dari pergerakan dan budaya. Dan tentu saja, komitmen tinggi terhadap hal seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mmmm… tapi sepertinya saya kelupaan untuk bicara distribusi ditingkat internasional. Memang disana lebih banyak ruang yang bisa dimasuki. Katakanlah sebuah festival, walaupun film yang kita kirim tidak lolos seleksi, bukan berarti film itu akan terbuang sia-sia karena mereka (pihak penyelenggara) membuat ruang yang mereka sebut Film Market, dimana semua film yang masuk/mendaftar dalam festival tersebut akan ditampilkan dalam film market.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup bicara pada satu ruang itu dulu, festival. Cukup berbeda dengan yang ada kebanyakan disini, pihak penyelenggara sudah menyiapkan follow up dari festival (seperti film market itu misalnya), dimana kontinyunitas dari ruang tersebut dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bicara hal yang cukup teknis, paling-paling bicara mengenai aturan durasi yang kebanyakan festival film. Yang dibilang film pendek itu durasinya maksimum 30 menit, tapi ada juga beberapa yang memakai aturan maksimum 60 menit. Hal yang wajib dan tidak bisa dibantah adalah subtitle bahasa inggris untuk dialog, atau sekalian saja pakai dialog dengan bahasa Inggris (nggak dosa kok). Selebihnya, terserah anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada akhirnya akan kembali bicara mengenai ruang, atau wadah fasilitator yang memudahkan kita mengakses ruang-ruang di skala internasional. Mungkin saat ini seorangLulu Ratna sudah memulainya dengan mendeklarasikan Boemboe Forum-nya sebagai ruang/wadah tersebut. Namun sekali lagi, saya masih berkeyakinan hal tersebut akan berbanding lurus dengan apa yang dibangun/ditata pada tingkat lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, silahkan baca kembali paragraf-paragraf diatas. Terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwokerto, Juli 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;//d&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) tulisan ini dibuat untuk acara ngobrol santai sambil makan kwaci dan minum beer di markas Buldozer Yogyakarta pada tanggal 3 Agustus 2003.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20428653-113635611001210204?l=salampramuka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salampramuka.blogspot.com/feeds/113635611001210204/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20428653&amp;postID=113635611001210204' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113635611001210204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113635611001210204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salampramuka.blogspot.com/2006/01/memandang-perkembangan-film-pendek.html' title='Memandang Perkembangan Film (pendek) Indonesia*)'/><author><name>corporate art whore</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00322878491840745540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20428653.post-113635515895729138</id><published>2006-01-03T22:11:00.000-08:00</published><updated>2006-01-03T22:12:39.076-08:00</updated><title type='text'>Perkara Distribusi dan Eksebisi Film Alternatif</title><content type='html'>Obrolan Forum Film&lt;br /&gt;Sumbawa Room Hotel Indonesia 15-16 Oktober 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara Distribusi dan Eksebisi Film Alternatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan distribusi serta eksebisi alternatif ( non bioskop ) mungkin selama ini sudah berulang kali dibahas diberbagai ruang diskusi. Namun rupanya hal tersebut belum begitu banyak mendapatkan respon karena selama ini para filmmaker indie ( maaf kalo pake term “indie” lagi ) masih lebih fokus pada hal produksi. Ruang-ruang seperti festival film, utamanya yang ada didalam negri masih jadi ruang andalan eksebisi sekaligus distribusi. Adapun pemutaran film dikampus-kampus yang sifatnya temporer, juga masih jadi ruang andalan selain festival film ( yang juga sifatnya temporer ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya sebuah distribusi bagi karya-karya tersebut yang menjadi poin utama dari Obrolan Forum Film kali ini, ketika kita melihat adanya berbagai masalah, terutama akses yang cukup menjadi hambatan bagi distribusi karya tersebut. Utamanya permasalahan ruang bagi karya tersebut yang bisa dikatakan “terbatas” sehingga belum dapat dikatakan karya tersebut sudah tersosialisasikan kepada publik luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mira Lesmana mengatakan bahwa yang menjadi hal utama yang harus diperhatikan adalah, motif si filmmaker sendiri dalam membuat filmnya. Untuk apa dan untuk siapa film/karya itu dibuat menjadi hal yang harus dijawab untuk pertama kalinya. Hal ini amat mendasar untuk diperhatikan, menurutnya. Bila hal ini tidak diperhitungkan sejak awal, maka si filmmaker sendiri akan menemukan kesulitan bila ia dihadapkan pada permasalahan distribusi. Hal senada juga diungkapkan oleh Christiantowati. Pada kasus “the Jakarta Project”, masalah distribusi tidak diperhitungkan sama sekali sehingga timnya menemukan kesulitan-kesulitan yang sebenarnya amat mendasar ketika mereka hendak mendistribusikan film tersebut ke khalayak luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, menurut Mira Lesmana, distribusi adalah sebuah sistem bagaimana karya/produk sampai kepada publik. Sedang seorang distributor tugas utamanya adalah campaign &amp; promoting. Perhitungan masalah distribusi itu harus sudah ada semenjak awal produksi ( pra-produksi ). Mencari partner ( investor maupun funding ), membaca/memetakan segmen, matang konsep serta manajemen, adalah poin-poin penting yang ditekankan oleh Mira. Penentuan skala bagi karya tersebut juga menjadi salah satu poin yang harus diperhatikan. Layar lebar-kah, tv, atau festival adalah pilihan skala bagi karya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christiantiowati sendiri menambahkan, perlunya seseorang yang khusus mengurus distribusi tersebut dalam tim produksi. Segala sesuatu yang berurusan dengan distribusi karya tersebut menjadi tanggung jawabnya, sehingga karya dapat ter-distribusikan dengan baik. Berpaling pada pengalaman film yang ia tangani bersama kawan-kawannya, ternyata mengurus distribusi dengan cara “keroyokan” tidak cukup efektif dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga hal dalam distribusi menurut Mira, yaitu; ruang, sistem, serta promosi. Ketiga hal tersebut harus terpenuhi bila proses ini mau berjalan lancar. Mira juga mengatakan bahwa selama ini para filmmaker indie belum memikirkan/belum mempunyai konsep yang matang mengenai distribusi. Kalaupun ada, ruang/sistemnya belum ada/jelas. Inilah yang harus menjadi titik utama dalam membahas permasalahan distribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilain pihak, para filmmaker indie yang hadir menagatakan, bahwa selama ini permasalahan tersebut sudah sering dibicarakan walau belum ada sebuah kesepakatan untuk membuat sistem yang matang. Sudah banyak strategi yang dilakukan oleh para filmmaker/komunitas film untuk memecahkan persoalan ini. Salah satunya adalah acara Pesta sinema Indonesia ( PSI ) yang digagas oleh kawan MM Kine Klub Jogja dengan me-road show-kan karya-karya yang mengikuti PSI ke berbagai kota antara lain; Purwokerto, Jakarta, serta Bandung. Metode tersebut dipandang cukup sukses sebagai salahsatu metode penyebaran karya ( baca: distribusi ).&lt;br /&gt;Banyak pula usulan mengenai metode distribusi yang dapat dicoba sebagai test case. Antara lain distro yang diusulkan Erik dari Bandung, serta Simon dari KPP. Distro ( Distribution Outlet/semacam toko ) yang biasa dipakai oleh para pemusik undergorund untuk mendistribusikan kaset-kaset mereka ke berbagai daerah. Satu distro dengan yang lainnya saling terhubung dan bertukar informasi. Para filmmaker dapat menitipkan karyanya untuk dipasarkan dengan sistem konsinyasi. Atau ide lama yang kembali ditawarkan adalah bioskop alternatif sebagai ruang distribusi serta eksebisi sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bioskop alternatif dapat berperan ganda. Pertama sebagai ruang distribusi ( semacam distro ), kedua sebagai ruang eksebisi ( layaknya bioskop ) dan sifatnya kontinyu ( tidak temporer ). Bioskop alternatif ini bentuknya amat fleksibel, samasekali tidak harus berbentuk layaknya bioskop yang kita kenal selama ini. Bisa saja bioskop ini berbentuk ruangan 3x3 meter dengan tv 14 inch. Yang terpenting adalah kontinyunitas ( fungsi) darinya.&lt;br /&gt;Namun dari kesemua tawaran tersebut muncul beberapa masalah, antara lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana&lt;br /&gt;Manajemen&lt;br /&gt;Infrastruktur&lt;br /&gt;Hukum ( etika )&lt;br /&gt;Akses Informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk 3 poin pertama bisa dikatakan permasalahan klasik. Artinya, hal tersebut sudah kita ketahui sebelumnya. Menurut Arfan dari UMM Kine Klub, dibutuhkan strategi matang untuk memecahkan tiga permasalahan utama tersebut. Bagaimana kita dapat menawarkan konsep yang atang kepada calon investor agar mereka tertarik untuk memberikan modal bagi persoalan distribusi ini. Atau bagaimana menyusun strategi untuk dapat bekerjasama dengan pihak-pihak yang dapat mendukung, seperti pemerintah daerah misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk permasalahan hukum atau etika, memang perlu ada pembahasan yang lebih mendalam lagi. Aturan main seperti apa yang dapat diterima oleh semua pihak mengenai pendistribusian karya. Bagaimana agar tidak terjadi kesalahpahaman atau mengambil keuntungan secara sepihak dalam permasalahan distribusi ini. Aturan ini diharapkan dapat berlaku secara universal dan sifatnya win-win solution. Artinya si filmmaker pun tidak melulu berpikir tentang permasalahan profit belaka, namun lebih cendrung untuk bahu-membahu mengembangkan perfilman indie ( istilah baru buat dunia film indie ) ke arah yang lebih kondunsif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk poin terakhir, akses informasi, menjadi sorotan dalam akhir acara Obrolan Forum Film ( hari kedua ). Banyak pihak menyatakan, bahwa permasalahan distribusi dan eksbisi ini beserta segala metode untuk mencapainya telah menemui kesepahaman. Artinya, segala metode tersebut dengan 3 permasalahan klasik; dana, manajemen, serta infrastruktur, dapat dipahami. Namun akses informasi, dalam artian jalinan komunikasi antar lokus/komunitas rupanya memang belum terjalin dengan baik. Ruang-ruang komunikasi yang ada selama ini seperti mailing list ( milis ) belum dimanfaatkan secara optimal. Milis merupakan ruang komunikasi sebagai tempat pertukaran informasi masih dipandang sebagai ruang yang paling efektif dan efisien. Kita dapat memulai sebuah proses distribusi yang paling sederhana dari ruang milis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari milis kita dapat menghimpun segala macam informasi dan membuat semacam database yang dapat berguna sebagai sumber informasi. Bila kita ingin bekerjasama dengan sebuah komunitas, kita dapat memanfaatkan database tersebut sebagai sumber informasi. Apa-apa saja yang kita butuhkan, serta kendala-kendala yang dihadapi dapat kita ketahui dari database tersebut.&lt;br /&gt;Tommy Taslim mengatakan bahwa selama ini, masih banyak komunitas yang masih enggan menggunakan milis sebagai ruang komunikasi antar komunitas. Padahal ruang tersebut dapat digunakan sebagai tempat sharring untuk mencari solusi bagi persoalan yang dihadapi, seperti kebutuhan akan infrastruktur misalnya atau bagaimana bekerjasama dengan komunitas lain untuk mengadakan pemutaran film. Lulu Ratna juga menambahkan, database dari tiap-tiap komunitas amatlah penting, dimana kita dapat saling belajar serta mengetahui kesulitan-kesulitan atau sebuah keberhasilan yang telah dicapai oleh komunitas tersebut sebagai sebuah bahan pembelajaran bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara Obrolan ditutup dengan sebuah kesepakatan bahwa hal pertama yang harus kita lakukan untuk memecahkan persoalan distribusi serta eksebisi adalah memperkuat bangunan komunikasi antar komunitas. Milis masih menjadi pilihan utama sebagai ruang komunikasi yang efektif bagi pertukaran informasi. Dengan begitu, ketika bangunan komunikasi ini semakin kuat, diharapkan persoalan distribusi serta eksebisi ini dapat terurai satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwokerto 25 Oktober 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;//d&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20428653-113635515895729138?l=salampramuka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salampramuka.blogspot.com/feeds/113635515895729138/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20428653&amp;postID=113635515895729138' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113635515895729138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113635515895729138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salampramuka.blogspot.com/2006/01/perkara-distribusi-dan-eksebisi-film.html' title='Perkara Distribusi dan Eksebisi Film Alternatif'/><author><name>corporate art whore</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00322878491840745540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20428653.post-113635494328942821</id><published>2006-01-03T22:07:00.000-08:00</published><updated>2006-01-03T22:09:03.530-08:00</updated><title type='text'>Modal, Akses, dan Retorika</title><content type='html'>Dan retorika itu terus berkumandang; membangun perfilman Indonesia. Per( film )an Indonesia? Yang mana? Yang ada di bioskop-bioskop 21 sana, atau yang mana? Ada yang sudah menghitung berapa jumlah komunitas film yang tersebar diseluruh nusantara ini, atau jumlah riil karya dari komunitas ataupun personal yang tersebar diseluruh kota di Indonesia ini? Tapi jangan dihitung yang pernah ada di bioskop 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila angka 700-an yang dimiliki oleh FFII kita anggap sebagai representasi dari jumlah keseluruhan karya yang ada di nusantara ini, berapakah yang memiliki akses untuk masuk ke jalur distribusi ataupun masuk ke ruang eksebisi lainnya? Akses, hal yang intim dengan modal hanyalah benda pusaka yang dimiliki segelintir orang ataupun kelompok. Adakah ruang yang tersedia bagi ratusan karya tersebut untuk “sekedar” dipertunjukkan kepada khalayak, selain menanti momentum semacam festival? Atau ada yang sudah bersedia untuk menghitung jumlah produksi pertahun dari komunitas-komunitas film tersebut? 100, 200, atau bahkan 700 karya pertahun? Kemudian kemana saja karya-karya itu sekarang? Ah sialan, kebanyakan tanda tanya nih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insan Perfilman Indonesia; Siapa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cecep pernah bikin film dan pernah di ikut sertakan pula disebuah festival. Karya perdana, festival perdana, usaha nekad plus coba-coba untuk bikin film dari seorang Cecep. Cecep bisa jadi seorang insan perfilman Indonesia, atau sekedar pemandu sorak dari perfilman Indonesia. Nah, siapakah insan perfilman Indonesia sesungguhnya? Lagipula apa perlu pentasbihan semacam itu agar bisa dibilang pejuang kebangkitan perfilman Indonesia.&lt;br /&gt;Tapi nyatanya judul insan perfilman itu cukup ampuh untuk terus ditempelkan sebagai merk dagang. Atau jangan-jangan sudah di SK-kan menjadi sebuah jabatan resmi yang menyeramkan. Sekali lagi, yang bermodal memang punya kemampuan untuk menciptakan imej seperti itu. Lumayan buat mengukuhkan eksistensi dan meningkatkan daya jual produk dipasar. Lah, si Cecep nanti gimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi Cecep tidak akan berpusing ria tentang label-labelan macam itu, tapi siapa bilang Cecep nggak berhak untuk menduduki “jabatan” tersebut? Tapi semua orang berhak kok untuk meng-klaim kalau dirinya sebagai insan perfilman Indonesia yang siap memajukkan dunia perfilman Indonesia agar mampu bersaing didalam era pasar bebas pada jaman global ini. Wuiiiihhh hebat deh, heroik! Ah Cecep mah yang penting bisa bikin pilem, nggak mau mikirin tentang begituan, lieur..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Lain; “Jalan ditempat....grak...!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ngapain mikirin perfilman Indonesia? Yang penting berkarya. Ngapain mikirin Indonesia? Yang penting bikin film. Bagi-bagi tugas saja, ada yang bikin film kemudian ada yang menyediakan ruang untuk memutar karya tersebut kalau bisa sekalian mendistribusikannya. Tapi tetap aja nggak usah mikirin dunia perfilman Indonesia, apalagi mikirin Indonesia. Kalau semuanya pengin bikin film, trus siapa yang mau bikin ruang eksebisi maupun distribusi buat film-film itu? Ya nggak tau deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bikin jaringan distribusi dan eksebisi yuk?!”&lt;br /&gt;“Nggak tau ah, rumit!”&lt;br /&gt;“Tapi kalau mau maju, kita harus bersatu?”&lt;br /&gt;“Tau ah, urus aja sendiri-sendiri!”&lt;br /&gt;“Eh, katanya ada monopoli loh di jaringan film di Indonesia”&lt;br /&gt;“Bodo, nggak urusan!”&lt;br /&gt;“Kok pada kayak gitu sih?!”&lt;br /&gt;“Lah kamu cerewet!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwokerto 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;//d&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20428653-113635494328942821?l=salampramuka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salampramuka.blogspot.com/feeds/113635494328942821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20428653&amp;postID=113635494328942821' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113635494328942821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113635494328942821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salampramuka.blogspot.com/2006/01/modal-akses-dan-retorika.html' title='Modal, Akses, dan Retorika'/><author><name>corporate art whore</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00322878491840745540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20428653.post-113622739661495505</id><published>2006-01-02T04:35:00.002-08:00</published><updated>2006-01-02T10:43:16.620-08:00</updated><title type='text'>Film Alternatif dan Kuasa Ruang</title><content type='html'>Festival film indie yang digelar oleh Global TV (GIFF) mengingatkan saya kembali kepada wacana film alternatif (atau mungkin kebanyakan orang lebih nyaman menyebutnya dengan sebutan film indie) yang belakangan ini sudah surut walau tidak hilang samasekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama persis ketika SCTV mengadakan FFII pertamakali, dimana kemudian mengundang banyak respon dari berbagai kalangan mengenai apakah benar SCTV akan serius menggarap festivalnya sehingga benar-benar menjadi ruang bagi pembuat film, khususnya dari generasi muda. Perdebatan yang cukup seru kala itu, terutama mengenai ke-independensi-an dari para pengkarya dari hegemoni kapital, baik dalam karya maupun ruangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini saya tidak hendak memperdebatkan keabsahan dari festival film yang digelar oleh Global TV. Ada hal yang muncul dalam benak saya ketika melihat tayangan iklan festival tersebut, pertanyaan mengenai apa kabar film indie Indonesia yang dulu begitu semangat dan dahsyatnya wacana mengenai film indie berputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak pemunculannya yang dianggap sangat fenomenal, film indie menjadi sebuah momentum bagi kaum muda sebagai sebuah ruang ekspresi yang membebaskan serta tidak dibelit dengan persoalan birokratis didalamnya. Menjadi medium yang mewakili jatidiri kaum muda; bebas serta bersemangat. Sebuah pergeseran wacana dari penonton, menjadi pembuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncullah sebuah ekspetasi bahwa momentum tersebut dapat mengantarkan kembali kepada kebangkitan perfilman Indonesia. Para kaum muda sebagai pelaku utama yang kemudian akan menjadi generasi penguasa perfilman Indonesia berikutnya. Sebuah ekspetasi yang saat itu terlihat sangat mungkin terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya ratusan komunitas film diberbagai pelosok Indonesia menjadi salahsatu parameternya. Kelompok-kelompok tersebut ramai berproduksi, gairah serta semangat yang mereka tunjukan menginspirasikan banyak kaum muda lainnya untuk kemudian turut ikut serta ambil bagian dalam fenomena ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini, semua orang percaya bahwa saat itulah momentum yang tepat untuk mendeklarasikan kebangkitan kembali perfilman Indonesia, yang diwakili oleh ratusan pembuat film muda dengan usaha mereka sendiri, pengetahuan terbatas, fasilitas terbatas, namun dengan semangat tinggi melahirkan karya-karya film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sudah sampai dimanakah kita saat ini? Dalam rentang waktu semenjak awal pemunculannya sampai saat ini, sudah seberapa besar ekspetasi itu terjawab? Benarkah kebangkitan itu telah terjadi? Atau kemana kaum muda yang disebut-sebut the next generation dari perfilman Indonesia saat ini? Apakah film indie (atau apapun itu kemudian kita sebut) masih menjadi wacana yang menarik untuk diperbincangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin beberapa dari pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan; masih dalam proses. Artinya, kebangkitan itu sendiri adalah sebuah proses panjang yang tidak bisa kita ukur hanya dengan besarnya jumlah produksi film Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, mungkin lebih spesifik lagi saya ingin memperbincangkan mengenai perfilman indie yang selama ini banyak diklaim sebagai pijakan atau pondasi yang memperkuat kebangkitan kembali perfilman Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang merasa pernah “terlibat” didalamnya, saya melihat tidak ada perubahan sama sekali dari perfilman indie di Indonesia, atau bahkan lebih jauh lagi sudah redup dari masa kejayaannya. Sudah jarang terdengar wacana yang dilemparkan oleh para pelaku-pelakunya. Semangat yang dulu terlihat jelas sekali tentang bagimana memajukan perfilman (indie) Indonesia mungkin sudah menjadi wacana eksotis belaka, atau sekedar bisik-bisik antar teman saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah artikel Seno Gumira mengatakan bahwa film alternatif disaksikan oleh penonton alternatif yang pada gilirannya penonton alternatif itulah yang akan melahirkan sineas alternatif. Dan Seno bertanya, seberapa jauh penonton alternatif itu ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, seberapa jauh penonton bagi karya-karya film alternatif itu ada? Seberapa karya-karya itu memang menjadi sesuatu yang hadir dan diakui oleh publik, bahkan publiknya sendiri? Kalau kita memang ingin memakai logika bahwa sineas-sineas alternatif muda itulah yang akan menjadi tonggak bagi kemajuan perfilman Indonesia, seberapa jauh kehadiran mereka diakui oleh publik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jumlah produksi film alternatif yang besar dalam setahun (dalam FFII SCTV pertama tahun 2002, terkumpul sekitar 740 karya, dan 800an karya di FFII kedua) tentunya kita bisa melihat dengan jelas bahwa kehadiran film-film alternatif ini bisa menjadi modal bagi kita untuk menggodok visi serta misi pengembangan perfilman Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun disaat yang bersamaan kita dihadapkan pada persoalan apakah benar para pelaku-pelaku ini juga memiliki visi dan misi tersebut? Dulu kita sempat memiliki ruang yang bernama FFVII (Festival Film Video Independen Indonesia) yang diselenggarakan oleh KONFIDEN (Komunitas Film Independen Indonesia) di Jakarta. Festival ini menjadi semacam tempat transit besar bagi pengkarya film alternatif untuk meng-eksebisikan karya-karya mereka sekali dalam setahun serta ajang silaturahmi antar pengkarya film dari berbagai kota di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan FFVII terakhir di tahun 2002, cukup berhasil membangun sebuah wacana yang kuat bagi film alternatif. Keberadaan mereka sebagai sesuatu yang non-mainstream adalah sebuah usaha untuk membuka kemungkinan eksplorasi dengan kebebasan yang mereka miliki. Banyak wacana yang bergulir darinya. Film buat lagi sekedar. Sekedar membuat, sekedar mempertontonkan, sekedar mengkoleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, ruang ini memiliki banyak peran dan salahsatu peran yang cukup vital adalah peran melahirkan wacana itu sendiri. Pengambilan sikap tegas para pengkarya film saat itu untuk tidak memusingkan persoalan industri, atau bahkan melawan hegemoni industri itu sendiri adalah sikap yang menunjukan visi kedepan bahwa ada hal-hal mendasar yang harus diselesaikan; menjadikan film sebagai wacana intelektual yang menyangkut kebebasan berekspresi serta  eksplorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya FFVII tutup buku, dan “digantikan” oleh FFII SCTV. Sebuah bukti bahwa film alternatif mulai dipandang sebagai bisnis yang menguntungkan . Pasar telah tercipta, tren telah bergulir, dan kapital berbicara. Pengambil alihan kekuasaan ruang oleh pemodal tampaknya bukan sesuatu yang menjadi persoalan bagi para pengkarya film alternatif ini. Persoalan klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disana tersedia sejumlah besar uang serta ketenaran, siapa yang tidak mau? Institusi televisi memiliki kekuatan tersebut, dan ternyata para penggiat film alternatif belum memiliki  resistensi yang kuat untuk berhadapan langsung dengan hal seperti ini. Secara langsung kesempatan ini membuka kesadaran bagi kebanyakan mereka bahwa hal ini dapat mengantarkan mereka kepada sesuatu hal yang lebih kongkrit; industri televisi. Semuanya ada disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang salah dengan itu, ini cuma persoalan pilihan. Pilihan yang dikemudian hari menjadikan keyakinan-keyakinan yang dulu dikumandangkan dengan penuh semangat menjadi omong kosong belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada penyikapan tegas dari para penggiat, bahkan tidak juga bagi orang-orang yang memiliki power untuk melakukan kritik melalui media massa. Lembaga pendidikan multimedia sekelas IKJ pun tidak memiliki sikap yang jelas sebagai sebuah institusi pendidikan akademis. Media ini tidak dipandang dalam konteks filsafati serta visioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tokoh perfilman masih ramai mengkampanyekan betapa pedulinya mereka akan kondisi sinema Indonesia saat ini, utamanya bagi kaum muda yang lagi-lagi disebut sebagai “generasi penerus”. Sebagai ikon mereka memiliki kekuatan politis untuk memberikan kritik serta wacana atas intervensi kapital utamanya pada kuasa ruang. Namun bagi saya belum ada yang berani secara terang-terangan untuk melakukan keberpihakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kepentingan secara pasti untuk membiarkan kondisi seperti ini adalah, menjaga bagaimana pasar bagi produk film Indonesia tetap ada. Sekedar menjadi objek yang harus dipelihara. 80 persen dari film Indonesia yang baru lahir diperuntukan bagi kaum muda, dan pasar  ini harus dipelihara dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan ruang adalah persoalan krusial. Dalam bentuk harfiahnya, tidak ada ruang yang memang secara khusus memfasilitasi kehadiran karya-karya film alternatif serta kembali memunculkan wacana dari pengembangan serta perkembangannya itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada catatan yang valid tentang seberapa banyak jumlah karya film alternatif yang ada sampai saat ini. Tidak ada catatan ilmiah  tentang bagaimana kecenderungan isi dari karya-karya tersebut serta yang paling fatal adalah; tidak adanya kritik bagi karya-karya tersebut atau bahkan bagi film-film Indonesia kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seharusnya film dalam bentukan apapun menjadi wacana intelektualitas yang sejajar dengan wacana apapun didalam dunia ilmiah. Kritik adalah komponen yang sama pentingnya dengan ruang. Kritik yang akan melahirkan serta menggulirkan wacana. Dan kritik itulah yang akan menjadi bahan pembelajaran kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelum kita bicara kritik, kita dihadapkan oleh persoalan ruang. Belum adanya ruang yang memang khusus memfasilitasi karya film alternatif ini menjadikan kita sulit untuk menilai sudah seberapa jauh perkembangannya, apalagi menilai akan menjadi seperti apa kedepannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival film hanya ada satu tahun sekali. Artinya kita kita harus menunggu selama setahun untuk melihat atau menampilkan karya, dan itu pun hanya sebagian kecil dari karya-karya yang terus bermunculan. Lebih ironisnya lagi, tinggal sedikit ruang festival yang ada di Indonesia bagi karya film alternatif ini. Kita bisa menyebut Festival Film Dokumenter di Yogykarta, Mavfie di Malang, Pesta Sinema Indonesia di Purwokerto saat ini yang secara skala harus diakui belum cukup besar untuk menampung atau memberikan dampak bagi pengembangan film alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghilangnya beberapa even festival film yang peranannya tidak bisa dipandang sebelah mata semakin mempersempit ruang gerak bagi karya-karya film alternatif. Salahsatu penyebab kematian dari festival-festival tersebut adalah, mereka tidak memiliki “ideologi”  yang cukup kuat sebagai sebuah ruang. Kemana lagi kemudian kita harus berpaling?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengecilkan arti kine klub atau komunitas film yang mengadakan program pemutaran film secara berkala, namum program pemutaran yang ada sifatnya masih sporadis. Namun kehadiran kelompok-kelompok ini amat penting sebagai supporting organ yang akan menjadi penopang dari ruang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bicarakan mengenai ruang yang secara fisik memiliki 50 kursi, dengan jadwal pemutaran rutin. Sebuah bioskop mini, namun dengan pasti kita bisa menyebutnya sebagai sebuah bioskop, tidak lain tidak bukan. Ruang ini memiliki sistem yang jelas layaknya sebuah bioskop “asli”. Jadwal pemutaran rutin, publikasi yang baik, system operasional serta manajemen yang tertata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara mental, ruang ini akan berfungsi sebagai sebuah wadah serta meeting point bagi karya serta pengkarya film alternatif dengan publiknya atau publik yang lebih luas lagi. Disini adalah daerah kekuasaan absolut bagi para pengkarya mandiri. Ruang ini dapat menjadi pusat penyebaran wacana, ruang ini harus menjadi lawan tanding bagi hegemoni kapital. Ruang ini harus menjadi tempat yang dalam istilah Seno Gumira; pendidikan semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan, ruang ini akan bergerak dan terkoneksi dengan ruang lain seperti festival film atau kine klub serta komunitas-komunitas film secara luas. Dari sanalah kita membangun jaringan yang kuat serta solid dengan visi serta misi yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini silahkan kita berbangga dengan film-film Indonesia yang menang berbagai festival di luar negeri. Tapi toh ketika kita kembali melihat kedalam akan berhadapan dengan kenyataan bahwa film-film tersebut sekedar membawa kebanggaan. Namun kembali kita mempertanyakan visi dari para penggiat film (alternatif) saat ini; mau apa dan kemana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan klasik yang tidak pernah terjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;//d&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20428653-113622739661495505?l=salampramuka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salampramuka.blogspot.com/feeds/113622739661495505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20428653&amp;postID=113622739661495505' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113622739661495505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113622739661495505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salampramuka.blogspot.com/2006/01/film-alternatif-dan-kuasa-ruang.html' title='Film Alternatif dan Kuasa Ruang'/><author><name>corporate art whore</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00322878491840745540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20428653.post-113622728811255128</id><published>2006-01-02T04:35:00.001-08:00</published><updated>2006-01-02T10:41:28.123-08:00</updated><title type='text'>Hidup dalam keyakinan, Hidup dalam Mimpi</title><content type='html'>Revolusi, mungkin ini adalah kata yang paling menyeramkan sekaligus paling membosankan. Bisa jadi, sangat murahan. Pada jaman ini, kata revolusi kita bisa beli di toko buku, emperan kaki lima, atau di distro-distro dengan harga yang jauh lebih murah dari arti kata itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kata ini adalah subversif, sekarang hanyalah sederetan huruf yang bila diucapkan akan terdengar konyol. Dulu orang membisikkannya, sekarang meneriakannya tanpa makna. Dulu orang-orang membutuhkan keyakinan untuk mengucapkan. Mungkin sekarang hanya kekonyolan yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan kelas, kesetaraan, keadilan, tampaknya semakin mengabur dari pandangan. Melihat kembali kepada kenyataan hidup yang memunculkan pembenaran atas kejahatan yang terjadi. Makna bukan lagi sesuatu yang penting saat ini. Nilai jual-beli menentukan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi berhentilah sejenak untuk memastikan kembali apakah babak ini telah selesai atau belum. Apakah keyakinan ini sudah selayaknya dihapus. Apakah perubahan memang harus dilakukan hanya dengan satu cara? Apakah kata revolusi itu sendiri harus selalu identik dengan darah atau jargon kosong belaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda membaca tulisan ini, mungkin Anda akan berpikir bahwa saya si penulis adalah si konyol yang naïf dan bodoh. Mungkin ya, dan saya tidak berkeberatan dengan semua itu. Biarkan saya menuliskan keyakinan ini, dan silahkan Anda tinggalkan bila Anda tak bersepakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi adalah persoalan keberanian berpikir radikal serta keberanian untuk bersikap. hanya kepada aksi nyata maka perubahan akan terjadi. membangun resistensi serta keyakinan yang kuat. Apa yang ada di kepala tak langsung dapat dinilai dari apa yang tampil didepan mata. Keengganan untuk berpikir bebas serta memanifestasikannya hanya akan melahirkan sinisme tak perlu pada sebuah perubahan.Bagi yang tak mengakui kekalahannya dari realitas, maka dia akan menjadi kaum sinis yang tak bermakna.Eksistensi bukanlah satu-satunya jawaban bagi keberadaan diri. dengan jujur atas apa yang diinginkan, terlebih bagi kebaikan sesamanya, maka kebersamaan akan hadir dengan murni.Slogan takkan pernah bisa menjadi senjata. slogan hanya berlaku bagi orang-orang berotak dangkal. slogan hanya melahirkan kemunafikan.Hidup atas nama manusia, bukan tuhan.&lt;br /&gt;Jakarta, Januari 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;//d&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20428653-113622728811255128?l=salampramuka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salampramuka.blogspot.com/feeds/113622728811255128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20428653&amp;postID=113622728811255128' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113622728811255128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113622728811255128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salampramuka.blogspot.com/2006/01/hidup-dalam-keyakinan-hidup-dalam.html' title='Hidup dalam keyakinan, Hidup dalam Mimpi'/><author><name>corporate art whore</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00322878491840745540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20428653.post-113620558520501913</id><published>2006-01-02T04:35:00.000-08:00</published><updated>2006-01-02T04:39:45.206-08:00</updated><title type='text'>Save My Day With Cheap Vodka</title><content type='html'>Hey you! Yeah you…who else? Don’t you know that the day already over and the moon slap over my face? Gosh…tell you what; I felt there’s no more interesting happen nowadays. Everything’s so flat, so common. I found out no interesting thing could made up my mind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What can we do? Morrison’s dead, Cobain’s dead, rock n roll music is not rock anymore. They only rolling and rolling but forget to rock. Don’t blame me if I still stick with old records from 90’s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oil crisis, food crisis, social crisis, the state is in crisis. Well, everything’s in crisis now. Literature is in crisis. You only can find chicklit, teenlit, or some young authors try to draw about social problem trough his novel but he is forget that the reality is just too far far away from him. So, you can find exoticism that poverty or pain could be very beautiful and dramatic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O yeah, I can make up words about pain and poverty. Even when I was came from well-done family. It’s only need fantasy and imagination right? You what? You read that novel written by rebellious woman? Owh ok, that’s fine. But I will not calling you a monkey though.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What, you wanna talk about film? What film? Owh, that film…Well, geezz…let me draw my mind first. I tell you what, don’t waste your time and money to go to cinema because you can find a lot more interesting things in the street and you can find same shit in television. Well ok, there’s a different…in cinema, there’s no ads in the mid of the show… so what?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you realize that so many lies around us? Day by day, we need it more and more to satisfy people, to satisfy ourselves. It becomes needs. It becomes religion. But I though people are happy with it. Maybe you too, so go on. Have your time and enjoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My friend’s talking about love, and I’m talking about fuck someone. People talking about how cool they are, and I’m talking about how pathetic I am. Too bad, I have no intention to kill myself and I guess I’m just trying to save my days with cheap vodka. I love you people, loves you so much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;People are working hard in this city. So hard until they don’t know anymore for what they’re working for. And I’m walking through the days over and over watching all around, holding my breath, closing my eyes, opening it again and god…in my vodka you are exist!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Come oh please come and grab my hands. Please make my days interesting again. Throw a Molotov to the palace could be interesting. But…naaahhh…. that’s too stupid. Revolution only exists in a book. Maybe I should put myself in a band, the most pathetic way to amuse yourself and the most pathetic way to makes you to be cool. But at least you can fuck your fans.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20428653-113620558520501913?l=salampramuka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salampramuka.blogspot.com/feeds/113620558520501913/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20428653&amp;postID=113620558520501913' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113620558520501913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20428653/posts/default/113620558520501913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salampramuka.blogspot.com/2006/01/save-my-day-with-cheap-vodka.html' title='Save My Day With Cheap Vodka'/><author><name>corporate art whore</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00322878491840745540</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
