Modal, Akses, dan Retorika
Dan retorika itu terus berkumandang; membangun perfilman Indonesia. Per( film )an Indonesia? Yang mana? Yang ada di bioskop-bioskop 21 sana, atau yang mana? Ada yang sudah menghitung berapa jumlah komunitas film yang tersebar diseluruh nusantara ini, atau jumlah riil karya dari komunitas ataupun personal yang tersebar diseluruh kota di Indonesia ini? Tapi jangan dihitung yang pernah ada di bioskop 21.
Bila angka 700-an yang dimiliki oleh FFII kita anggap sebagai representasi dari jumlah keseluruhan karya yang ada di nusantara ini, berapakah yang memiliki akses untuk masuk ke jalur distribusi ataupun masuk ke ruang eksebisi lainnya? Akses, hal yang intim dengan modal hanyalah benda pusaka yang dimiliki segelintir orang ataupun kelompok. Adakah ruang yang tersedia bagi ratusan karya tersebut untuk “sekedar” dipertunjukkan kepada khalayak, selain menanti momentum semacam festival? Atau ada yang sudah bersedia untuk menghitung jumlah produksi pertahun dari komunitas-komunitas film tersebut? 100, 200, atau bahkan 700 karya pertahun? Kemudian kemana saja karya-karya itu sekarang? Ah sialan, kebanyakan tanda tanya nih!
Insan Perfilman Indonesia; Siapa sih?
Cecep pernah bikin film dan pernah di ikut sertakan pula disebuah festival. Karya perdana, festival perdana, usaha nekad plus coba-coba untuk bikin film dari seorang Cecep. Cecep bisa jadi seorang insan perfilman Indonesia, atau sekedar pemandu sorak dari perfilman Indonesia. Nah, siapakah insan perfilman Indonesia sesungguhnya? Lagipula apa perlu pentasbihan semacam itu agar bisa dibilang pejuang kebangkitan perfilman Indonesia.
Tapi nyatanya judul insan perfilman itu cukup ampuh untuk terus ditempelkan sebagai merk dagang. Atau jangan-jangan sudah di SK-kan menjadi sebuah jabatan resmi yang menyeramkan. Sekali lagi, yang bermodal memang punya kemampuan untuk menciptakan imej seperti itu. Lumayan buat mengukuhkan eksistensi dan meningkatkan daya jual produk dipasar. Lah, si Cecep nanti gimana?
Bisa jadi Cecep tidak akan berpusing ria tentang label-labelan macam itu, tapi siapa bilang Cecep nggak berhak untuk menduduki “jabatan” tersebut? Tapi semua orang berhak kok untuk meng-klaim kalau dirinya sebagai insan perfilman Indonesia yang siap memajukkan dunia perfilman Indonesia agar mampu bersaing didalam era pasar bebas pada jaman global ini. Wuiiiihhh hebat deh, heroik! Ah Cecep mah yang penting bisa bikin pilem, nggak mau mikirin tentang begituan, lieur..!
Yang Lain; “Jalan ditempat....grak...!!!”
Ah, ngapain mikirin perfilman Indonesia? Yang penting berkarya. Ngapain mikirin Indonesia? Yang penting bikin film. Bagi-bagi tugas saja, ada yang bikin film kemudian ada yang menyediakan ruang untuk memutar karya tersebut kalau bisa sekalian mendistribusikannya. Tapi tetap aja nggak usah mikirin dunia perfilman Indonesia, apalagi mikirin Indonesia. Kalau semuanya pengin bikin film, trus siapa yang mau bikin ruang eksebisi maupun distribusi buat film-film itu? Ya nggak tau deh.
“Bikin jaringan distribusi dan eksebisi yuk?!”
“Nggak tau ah, rumit!”
“Tapi kalau mau maju, kita harus bersatu?”
“Tau ah, urus aja sendiri-sendiri!”
“Eh, katanya ada monopoli loh di jaringan film di Indonesia”
“Bodo, nggak urusan!”
“Kok pada kayak gitu sih?!”
“Lah kamu cerewet!”
Purwokerto 2002
//d
Bila angka 700-an yang dimiliki oleh FFII kita anggap sebagai representasi dari jumlah keseluruhan karya yang ada di nusantara ini, berapakah yang memiliki akses untuk masuk ke jalur distribusi ataupun masuk ke ruang eksebisi lainnya? Akses, hal yang intim dengan modal hanyalah benda pusaka yang dimiliki segelintir orang ataupun kelompok. Adakah ruang yang tersedia bagi ratusan karya tersebut untuk “sekedar” dipertunjukkan kepada khalayak, selain menanti momentum semacam festival? Atau ada yang sudah bersedia untuk menghitung jumlah produksi pertahun dari komunitas-komunitas film tersebut? 100, 200, atau bahkan 700 karya pertahun? Kemudian kemana saja karya-karya itu sekarang? Ah sialan, kebanyakan tanda tanya nih!
Insan Perfilman Indonesia; Siapa sih?
Cecep pernah bikin film dan pernah di ikut sertakan pula disebuah festival. Karya perdana, festival perdana, usaha nekad plus coba-coba untuk bikin film dari seorang Cecep. Cecep bisa jadi seorang insan perfilman Indonesia, atau sekedar pemandu sorak dari perfilman Indonesia. Nah, siapakah insan perfilman Indonesia sesungguhnya? Lagipula apa perlu pentasbihan semacam itu agar bisa dibilang pejuang kebangkitan perfilman Indonesia.
Tapi nyatanya judul insan perfilman itu cukup ampuh untuk terus ditempelkan sebagai merk dagang. Atau jangan-jangan sudah di SK-kan menjadi sebuah jabatan resmi yang menyeramkan. Sekali lagi, yang bermodal memang punya kemampuan untuk menciptakan imej seperti itu. Lumayan buat mengukuhkan eksistensi dan meningkatkan daya jual produk dipasar. Lah, si Cecep nanti gimana?
Bisa jadi Cecep tidak akan berpusing ria tentang label-labelan macam itu, tapi siapa bilang Cecep nggak berhak untuk menduduki “jabatan” tersebut? Tapi semua orang berhak kok untuk meng-klaim kalau dirinya sebagai insan perfilman Indonesia yang siap memajukkan dunia perfilman Indonesia agar mampu bersaing didalam era pasar bebas pada jaman global ini. Wuiiiihhh hebat deh, heroik! Ah Cecep mah yang penting bisa bikin pilem, nggak mau mikirin tentang begituan, lieur..!
Yang Lain; “Jalan ditempat....grak...!!!”
Ah, ngapain mikirin perfilman Indonesia? Yang penting berkarya. Ngapain mikirin Indonesia? Yang penting bikin film. Bagi-bagi tugas saja, ada yang bikin film kemudian ada yang menyediakan ruang untuk memutar karya tersebut kalau bisa sekalian mendistribusikannya. Tapi tetap aja nggak usah mikirin dunia perfilman Indonesia, apalagi mikirin Indonesia. Kalau semuanya pengin bikin film, trus siapa yang mau bikin ruang eksebisi maupun distribusi buat film-film itu? Ya nggak tau deh.
“Bikin jaringan distribusi dan eksebisi yuk?!”
“Nggak tau ah, rumit!”
“Tapi kalau mau maju, kita harus bersatu?”
“Tau ah, urus aja sendiri-sendiri!”
“Eh, katanya ada monopoli loh di jaringan film di Indonesia”
“Bodo, nggak urusan!”
“Kok pada kayak gitu sih?!”
“Lah kamu cerewet!”
Purwokerto 2002
//d

0 Comments:
Post a Comment
<< Home