Monday, January 02, 2006

Hidup dalam keyakinan, Hidup dalam Mimpi

Revolusi, mungkin ini adalah kata yang paling menyeramkan sekaligus paling membosankan. Bisa jadi, sangat murahan. Pada jaman ini, kata revolusi kita bisa beli di toko buku, emperan kaki lima, atau di distro-distro dengan harga yang jauh lebih murah dari arti kata itu sendiri.

Dulu kata ini adalah subversif, sekarang hanyalah sederetan huruf yang bila diucapkan akan terdengar konyol. Dulu orang membisikkannya, sekarang meneriakannya tanpa makna. Dulu orang-orang membutuhkan keyakinan untuk mengucapkan. Mungkin sekarang hanya kekonyolan yang dibutuhkan.

Perjuangan kelas, kesetaraan, keadilan, tampaknya semakin mengabur dari pandangan. Melihat kembali kepada kenyataan hidup yang memunculkan pembenaran atas kejahatan yang terjadi. Makna bukan lagi sesuatu yang penting saat ini. Nilai jual-beli menentukan segalanya.

Tapi berhentilah sejenak untuk memastikan kembali apakah babak ini telah selesai atau belum. Apakah keyakinan ini sudah selayaknya dihapus. Apakah perubahan memang harus dilakukan hanya dengan satu cara? Apakah kata revolusi itu sendiri harus selalu identik dengan darah atau jargon kosong belaka?

Ketika Anda membaca tulisan ini, mungkin Anda akan berpikir bahwa saya si penulis adalah si konyol yang naïf dan bodoh. Mungkin ya, dan saya tidak berkeberatan dengan semua itu. Biarkan saya menuliskan keyakinan ini, dan silahkan Anda tinggalkan bila Anda tak bersepakat.

Revolusi adalah persoalan keberanian berpikir radikal serta keberanian untuk bersikap. hanya kepada aksi nyata maka perubahan akan terjadi. membangun resistensi serta keyakinan yang kuat. Apa yang ada di kepala tak langsung dapat dinilai dari apa yang tampil didepan mata. Keengganan untuk berpikir bebas serta memanifestasikannya hanya akan melahirkan sinisme tak perlu pada sebuah perubahan.Bagi yang tak mengakui kekalahannya dari realitas, maka dia akan menjadi kaum sinis yang tak bermakna.Eksistensi bukanlah satu-satunya jawaban bagi keberadaan diri. dengan jujur atas apa yang diinginkan, terlebih bagi kebaikan sesamanya, maka kebersamaan akan hadir dengan murni.Slogan takkan pernah bisa menjadi senjata. slogan hanya berlaku bagi orang-orang berotak dangkal. slogan hanya melahirkan kemunafikan.Hidup atas nama manusia, bukan tuhan.
Jakarta, Januari 2006

//d

0 Comments:

Post a Comment

<< Home